Jadi Aman! Ini Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik
Mudik bentar lagi! Biar liburan makin asik, rumah wajib aman. Simpen barang berharga di tempat aman dan bersihin rumah biar gak bau pas balik. Udah beresin rumah belum? Cek checklistnya di sini
Jadi Aman! Ini Tips Aman Meninggalkan Rumah Saat Mudik
Mudik bentar lagi! Biar liburan makin asik, rumah wajib aman. Simpen barang berharga di tempat aman dan bersihin rumah biar gak bau pas balik. Udah beresin rumah belum? Cek checklistnya di sini
Renov Kamar Mandi Sebelum Lebaran: Kenapa Jadi Prioritas?
Hindari kerusakan fatal saat hari raya. Renovasi dini kamar mandi Anda untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan penghuni rumah. Ketahui kenapa renovasi kamar mandi jadi list yang wajib dilakukan sebelum lebaran!
Budget THR untuk Renovasi? Ini yang Harus Didahulukan
Rumah estetik tidak harus mahal. Manfaatkan budget THR buat perbaikan krusial kayak plafon dan area kamar mandi. Cek selengkapnya di artikel kami ya

Harapanku saat memilih menetap di Ruang Pulih adalah berhenti menjadikan diriku medan perang yang tak pernah usai. Aku ingin datang bukan sebagai seseorang yang harus segera sembuh, melainkan sebagai seseorang yang berani mengakui bahwa ia lelah. Di sini, aku tidak ingin menjadi kuat sepanjang waktu. aku hanya ingin menjadi jujur.
Menetap di Ruang Pulih bagiku adalah keputusan untuk tidak lagi lari dari perasaan sendiri. untuk duduk bersama cemas yang sering kusembunyikan, menatap luka yang belum sempat kuberi nama, dan mendengar isi kepalaku tanpa terburu-buru membungkamnya. Mungkin yang selama ini kubutuhkan bukan tempat yang membuatku lupa, tetapi ruang yang mengizinkanku merasa.
di Ruang Pulih, aku ingin belajar bahwa sembuh tidak selalu berarti kembali seperti dulu. Kadang ia berarti menerima bahwa ada bagian yang berubah, ada retak yang tak sepenuhnya hilang, namun tidak lagi menyakitkan setiap kali disentuh. Aku ingin berdamai dengan versi diriku yang pernah hancur, tanpa terus menyalahkannya karena tidak sanggup bertahan lebih lama.
Aku memilih menetap di sini bukan karena aku menyerah pada dunia luar, tetapi karena aku ingin kembali kepadaku sendiri. Aku ingin membangun ulang kepercayaan yang sempat goyah, menumbuhkan keyakinan bahwa aku layak dicintai bahkan saat belum sepenuhnya utuh.
Semoga menetap ini menjadi bentuk kasih yang paling sederhana namun paling tulus: memberi waktu pada diri sendiri. tidak memaksa proses, tidak membandingkan perjalanan, tidak menuntut hasil yang cepat. Hanya bertahan dengan lembut, hari demi hari.
Dan jika suatu saat aku melangkah lagi keluar dari Ruang Pulih, semoga aku pergi bukan sebagai seseorang yang takut terluka, melainkan sebagai seseorang yang tahu caranya kembali dan memeluk dirinya sendiri, kapan pun dunia terasa terlalu bising.
— Ruang Pulih, 2026.
Tidak menyangka tepat 2 bulan lalu aku memuntahkan isi benakku, ceritaku disini. Tentunya tentang seseorang yang berhasil menyembuhkan lukaku, yang menjadi muara pertama cerita-ceritaku, dan yang menjadi kawan dan lawan dalam setiap adu argumentasi. Disini aku tidak akan merendahkannya, sungguh dia berarti bagiku. Meski 3 bulan bukan waktu yang lama untuk mengenal dia lebih dalam tapi kami memilih untuk menyerah. Bukan karena kami lemah, justru kamu terlalu kuat satu sama lain. Ia kuat dengan egonya dan memilih untuk menghindari argumen denganku, khawatir jika ada sepatah dua kata yang bisa melukai hatiku. Sedang aku, kuat dengan rasa ingin tau, peduli dan kepekaan yang dikhawatirkan dapat membatasi ruang geraknya.
Kami sadar, semakin hari akan muncul luka baru serta kesedihan yang tidak diharapkan. Namun kami masih memilih bertahan saat itu. Sampai ketika, seolah Tuhan membuka tabir sebuah pengkhianatan. Seseorang dari masa lalu datang, membuka cerita yang belum selesai. Aku, terpaku. Tidak ada tangisan, tidak ada emosi yang meluap-luap. Hanya tuntutan kejelasan dari sisinya. Permohonan demi permohonan coba digaungkan. Dan sepertinya matanya tak lagi melihat ke arahku. Berhenti dan berpaling adalah hal terakhir setelah berkali-kali diabaikan. Aku pun sudah menopang sendiri langkahku dengan kuat. Cerita kita akan menjadi bagian dari sejarah perjalanan kasih sayang. Terimakasih untuk kebahagiaan sederhana itu. Semoga kau temukan lagi bunga indah di sisa perjalananmu 🌷
Rumah itu bukan selalu tentang tembok yang kokoh atau atap yang melindungi dari hujan. Kadang rumah hadir dalam bentuk yang lebih sederhana dalam tawa yang kita kenali, dalam suara yang kita rindukan, dalam pelukan yang tak banyak tanya.
Ada hari hari ketika dunia terasa terlalu bising, terlalu cepat, terlalu melelahkan. Di saat seperti itu kita tidak benar benar mencari tempat untuk bersembunyi kita hanya ingin pulang. Pulang ke mereka yang menerima kita tanpa syarat, yang mengerti bahkan tanpa kita harus banyak bicara.
Bersama orang orang tersayang, luka terasa lebih ringan, dan lelah seakan punya tempat untuk beristirahat. Mereka mungkin tidak selalu punya solusi, tapi kehadiran mereka saja sudah cukup membuat hati terasa utuh kembali.
Karena pada akhirnya rumah bukan soal di mana kita berada. Rumah adalah tentang siapa yang tetap tinggal, bahkan ketika kita sedang tidak baik baik saja. Rumah adalah mereka yang tidak pergi, yang tetap menunggu, yang tetap memanggil kita untuk pulang apa pun keadaan kita.
Dan saat kita menemukannya kita sadar
ternyata yang kita cari selama ini bukan tempat, tapi rasa kehangatan akan keberadaan mereka yang memiliki makna dan cerita
Ada fase dalam hidup ketika lelah tidak selalu datang dari banyaknya aktivitas, tapi dari hal-hal yang entah sejak kapan terbiasa dipendam sendirian.
Aneh sebenarnya. Kita dikelilingi orang. Punya keluarga. Punya rumah. Tapi tetap saja ada hari-hari ketika isi kepala terasa penuh, dan pertanyaan yang muncul: talk to who?
Bukan karena tidak ada yang peduli. Namun justru karena terlalu tahu siapa yang paling peduli.
Orang tua, misalnya.
Bagiku, mereka adalah definisi rumah yang paling nyata. Tempat pulang yang rasanya selalu ada. Tempat di mana kita diterima, bahkan saat dunia terasa… complicated.
Tapi semakin dewasa, ada rasa sungkan yang ikut tumbuh. Tidak semua resah terasa enak untuk dibawa pulang. Tidak semua lelah terasa ringan untuk diceritakan.
Bukan menjauh. Hanya… enggan merepotkan cinta yang sudah terlalu tulus. Jadi kita memilih diam. Terlihat baik-baik saja— setidaknya dari luar. Menata wajah sebelum masuk rumah.
Sampai di satu titik lelah yang sulit dijelaskan, aku mulai mengerti— bahwa ada satu tempat pulang yang tidak pernah direpotkan oleh cerita seberat apa pun. Tempat di mana riuh di kepala tidak harus disusun rapi dulu. Tempat di mana air mata tidak perlu dibendung agar terlihat kuat.
Kepada Allah.
Dan di antara doa-doa yang kupanjatkan lirih, ada satu rindu yang terus kembali: ingin lebih dekat, ingin pulang dengan cara yang berbeda.
Umroh.
Bukan sekadar perjalanan, tapi keinginan untuk bernafas lebih tenang, meletakkan lelah tanpa perlu berpura-pura, dan merasa pulang… dengan cara yang paling utuh. Semoga Allah mampukan untuk menuju ke rumah-Nya.
•••
:: 4 Ramadan 1447H
pada hari-hari yang terasa berat dan melelahkan, aku senang menyelami lautan di kepalamu sembari menengadah ke langit pagi atau sore yang memayungi tanah pijakan. pada hari-hari berbeda yang ternyata tidak kalah penatnya, adalah giliranku menumpahkan benang kusut di kepala sembari berbaring menyerap ion dari dasar dengan kipas yang bergerak kiri-kanan.
pada waktu-waktu yang menyenangkan alih-alih melelahkan, kita tidak sempat bertukar pikiran, tetapi kehadiran satu sama lain sudah mampu menenangkan. pada saat-saat lain yang lebih dari sekadar melelahkan, barangkali satu pelukan panjang sebentar adalah yang kita butuhkan.
sebagaimana kucing-kucing menyebalkan yang gemar sekali mengekori para penghuni, tikus-tikus hitam yang bisa ditemui di kotak sampah sisa makanan kemarin, kecoa, cicak, dan ulat bulu (hiyyy!) yang menyeramkan tidak akan lelah untuk muncul, aku ingin kita sama-sama tahu bahwa meski kita tidak ada untuk satu sama lain, apa yang ada di dalam hati kita sudah lebih dari cukup.
senantiyasa, 2022.
sesekali aku ingin mengajakmu menyesap teh atau kopi (tapi harus ada gulanya, aku tidak suka kopi pahit) di beranda rumah dengan burung-burung berkicau dan terik mentari hangat menyapu pekarangan sambil membicarakan apa saja; berapa kali dulu kau mencuci dalam seminggu, siapa nama satpam kampus yang sering mengecek suhu badanmu, atau rute terjauh yang pernah kau tempuh dengan sepeda motormu, misalnya.
senantiyasa, 2022.
Saiz Beam Rumah Setingkat dan 2 Tingkat
Saiz Beam Rumah Setingkat dan 2 Tingkat
Saiz beam rumah ialah dimensi rasuk struktur yang menentukan keupayaan bangunan menanggung beban dinding, lantai dan bumbung secara selamat.
Pemilihannya bergantung kepada faktor seperti jumlah tingkat, panjang bentang, jenis bahan, serta beban mati dan beban hidup dalam rumah, menjadikannya aspek kritikal dalam pembinaan kediaman di Malaysia.
Rumah.
Bukan hanya sebuah bangunan fisik dengan ragam perabotannya, melainkan tempat yg bisa menerima lelahnya jiwa raga.
Tempat yang di dalamnya tanpa menghakimi dan banyak tanya.
Tempat yang orang-orangnya tidak banyak meminta, tetapi selalu penuh doa & cinta.
Tempat yang bisa menerima baik buruk semua penghuninya.
Tempat yang selalu dirindukan.
Tempat yang membuat kita selalu tahu arah untuk pulang.
Semoga aku bisa selalu menjadi rumah bagimu.
Semoga kamu bisa selalu menjadi rumah bagiku.
Semoga kita bisa menjadi rumah bagi anak-anak.
Beberapa kali berpapasan dengan rumah makan yang dulu sering aku kunjungi. Rasanya waktu itu jauh lebih lebar dan luas, udaranya menari berlomba dengan kakiku yang tak bisa dihalau ke sana ke mari. Kalau diperhatikan lagi, sekarang, pintunya seperti menyusut.
Jelas, ruangan luas itu dulu hanya milik kepalan tanganku yang kecil. Seperti selimut bayi yang tak lagi cukup memeluk pemiliknya yang semakin bertambah tinggi. Mainan, rumah-rumahan, ayunan di samping rumah, mimpi-mimpi. Ternyata, dari mataku, semuanya menyusut.
Masuk memilih sudut yang paling tepat hanya untuk merasakannya dari kadar manusia yang telah bertumbuh. Kalau dipikir-pikir, mulai kapan, ya, aku sudah tidak suka makanan manis? Halaman menu yang dulu susah-susah disembunyikan, sekarang menjadi tidak menarik. Aku kembali memilih diseduhkan kopi tubruk.
Aku lupa kapan terakhir kali seseorang bertanya kepadaku, “Dari mana keceriaan itu berasal?” Maaf, ya, periang mahir itu nampaknya sudah lupa caranya berjenaka. Aku jadi rindu ketika dunia yang paling bebas adalah imajinasi. Hari-hari yang diisi dengan berlakon sebagai seorang guru, dokter dan polisi. Masa-masa menginjak rumput liar untuk berlari tanpa alas kaki dan semua peluang yang tidak terbatas untuk dimainkan. Aku rindu ketika meneriaki pesawat meminta dijatuhkan uang masih terasa memungkinkan.
Bukan Sekedar Estetika, Ini loh Keunggulan Atap Seng Dibanding Genteng
PROGRAM ‘Gentengisasi’ yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 menuai beragam tanggapan.
Salah satu respons datang dari dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ashar Saputra, yang menilai wacana tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam.
Ashar menjelaskan dalam menilai penggunaan material atap bangunan, terutama genteng dan seng, setidaknya terdapat tiga aspek utama yang harus dipertimbangkan, yakni aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.
Ketiga aspek tersebut, kata dia, tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan kebijakan pembangunan.
Ada konsekuensi
“Saya tidak langsung mengomentari program gentengisasi itu sendiri, tetapi melihatnya dari tiga pendekatan tersebut. Setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” ujar Ashar, Kamis (5/2).