
Jadi waktu Juli 2012, aku pernah nulis di facebook. Kalau aku mau bangun sekolah buat anak-anak Indonesia. waktu itu aku baru naik kelas 11 SMA. entah kenapa aku bisa nulis gitu. tapi aku bisa nebak pasti karena aku dulu memang cita-citanya jadi guru dan pengen bikin sekolah bagus.
setelah merasakan jadi anak sekolah dan jadi guru sekaligus, ternyata membuat sekolah tidak segampang itu. wkwkw jederrrr
mungkin karena aku terlalu pengen sempurna jadinya ya ga akan tercapai, hanya jadi halu dan mimpi saja.
inilah Sekolah yang aku bayangkan:
pertama-tama aku pengen banyak uang, kaya raya melimpah ruah. AAMIIN hahaha (ya Allah enak banget mengkhayal bebas)
Sebelum membangun aku mau beli tanah berhektar-hektar, karena aku pengen fasilitas sekolah itu lengkap. dan yakin bahwa sekolah ini akan berkembang.
setelah itu aku benteng semua kawasan tanah yang menjadi milik sekolah.
Aku mau buat Sekolah Dasar level Internasional.
Hal yang akan aku lakukan:
EH ENAK BANGET MENGKHAYAL KAYA GINI. Mungkin ini akan berat di awal karena emg fasilitasnya banyak banget dan bahkan untuk awal-awal belum ada murid banyak. sebagai pendiri harus berkorban lebih awal dan memanusiakan manusianya. sehingga nanti akan ada kepercayaan dari masyarakat. ketika semuanya berjalan nanti sekolah yang akan membiayai itu semua. TIDAK SEGAMPANG ITU FERGUSOOO.
ya tapi ini hanya mimpi di siang bolong, duit dari mane gueee. hahah
15 Februari 2026
Kenapa ya Aku bisa bebas marah dan protes kebijakan tentang Guru?
Soalnya kalau netizen suruh resign “Aku sudah melakukannya”
Aku resign dari guru Sekolah Formal karena suatu alasan dan punya prioritas tertentu. Apa aku bisa lanjut sebagai Guru? Bisa.
Kalau netizen suruh siapa jadi guru, akan Aku katakan “Aku tetap bangga jadi guru walau sudah tidak menjadi bagian dari Sekolah Formal”
Biarkan aku yang berisik, karena kalau guru-guru yang lain marah-marah takut pahala mengajarnya hilang.
Terus nanti disuruh keluar sama netizen.
Seakan-akan yang mengalaminya secara langsung tidak boleh teriak atas perasaan dan perlakuan yang diterimanya.
INSKEN trains 20,196 entrepreneurs, generates RM22.4 million in sales by 2025 http://dlvr.it/TQvsQ2

Buah Pahit Hasil dari Liberalisasi Pendidikan di Tanah Air
PERTIKAIAN guru dengan murid semakin kerap terajdi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya yang terjadi di sebuah SMK di Jambi yang kemudian mengundang keprihatinan.
Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi pembinaan murid, kini justru arena kekerasan dan konflik antara pendidik dan murid. Kondisi ini kontras dengan upaya pemerintah yang menggencarkan implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, dalam praktiknya masih menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk dilaksanakan
Ruang pendidikan di sekolah seharusnya menjadi salah satu proses sosial yang demokratis untuk berdialog. Di ruang yang sama, komunikasi dua arah tersebut tidak boleh terpisah dari tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.
KALBAR SATU ID – Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan bahwa pemenuhan hak dasar masyarakat khususnya kesehatan dan pendidikan menjadi prioritas utama. Hal itu disampaikannya dalam Musrenbang RKPD 2027 Kecamatan Terentang, Jumat (30/1/2026). Menurut Sujiwo, percepatan Musrenbang dan penganggaran harus bermuara pada perlindungan hak-hak dasar rakyat.
“Kesehatan itu hak dasar rakyat dan amanat…
Sujiwo Tegaskan Kesehatan dan Pendidikan Jadi Prioritas Utama Pembangunan Kubu Raya
PUTRAJAYA – Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) akan membuka permohonan bagi 20,000 jawatan Pegawai Perkhidmatan Pendidikan (PPP) Gred DG9 secara kontrak atau Contract of Service (CoS) bermula 2 hingga 20 Mac. Ketua Pengarah Pendidikan, Dr Mohd Azam Ahmad berkata, pengambilan besar-besaran ini bertujuan memenuhi keperluan guru di seluruh negara.
Jawatan Guru
Pengumuman rasmi akan dibuat pada…
INGATLAH – Pemerintah Kota Pariaman secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Al-Mughny Pariaman guna memperkuat sektor pendidikan di daerah tersebut.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Wali Kota Pariaman, Yota Balad, di UNISBAR Convention and Exhibition(UCE) Kampus I Pariaman, By Pass, pada Jumat (30/1/2026).
Selain…

Mulai 2027, ibu bapa dibenarkan mendaftarkan anak usia 6 tahun ke Tahun 1 secara sukarela.
Namun, tidak semua anak sesuai diawalkan.
Pandangan jujur seorang guru berdasarkan pengalaman sebenar mengajar murid prasekolah dan Tahun 1.
Ada anak yang bersedia, ada yang perlukan masa.
▶️ Tonton video & baca penjelasan penuh di sini:
https://cikgufadli.com/enam-tahun-masuk-darjah-satu-bagus-atau-tidak-pandangan-cikgu-fadli/
⚠️ Jangan buat keputusan ikut-ikutan. Kenal pasti kemampuan anak sendiri.
📌 Sumber: Mohd Fadli Salleh
Ponpes Al-Idrisiyyah Siap Bertransformasi Menuju Panggung Global
PESANTREN tarekat Al-Idrisiyyah Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya menggelar kick off transformasi pendidikan berbasis kurikulum mengusung ‘Bertasawuf, maju, unggul dan mendunia’. Transformasi menjadi tantangan dunia pendidikan era industri, digitalisasi serta masa depan.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman mengapresiasi transpormasi pesantren Idrisiyyah yang diharapkan akanmenjadi model pesantren lebih maju dan menghasilkan calon pemimpin masa depan.
Selain itu juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi 13.000 pesantren lainnya di Jawa Barat. Dalam transpormasi tersebut ada tiga hal yang disampaikan yakni pendidikan pesantren dengan konvensional umum dan bukan ahlak mulia tapi anak-anak juga menguasai ilmu pengetahuan, teknologi.
Penguatan karakter
“Anak-anak harus bisa bersaing di rancah lokal, regional, nasional atau global, fokus tranpormasi untuk mendorong sekolah model dan sekolah terverisasi sejak SMP, MTs sesuai minat anak, kalau di sekolah konvensional umum spilisasinya di SMA, SMK. Pesantren didorong sejak MTs agar bagus anak bisa tumbuh kembang sesuai minat bakatnya,” katanya, di Ponpes Al Idrisyyah, Sabtu (17/1/2026).

🎒 Pengajaran Berpusatkan Murid
Melintas memori lama masa dicerap — saat guru memberi yang terbaik demi murid.
Daripada bahan bantu mengajar hinggalah pembelajaran interaktif, semuanya berubah mengikut peredaran zaman, namun matlamatnya tetap sama: murid diutamakan.
🔗 Baca lanjut:
https://cikgufadli.com/melintas-memori-lama-dicerap-pengajaran-berpusatkan-murid/
Sumber: Mohd Fadli Salleh
📚 Sertai: T.me/EbookCikguFadli
Warga Dukung Pemkot Tangani Tunawisma Tertib
RENCANA Pemerintah (Pemkot) Kota Bandung untuk melakukan penertiban dan penanganan tunawisma mendapat respons beragam dari warga.
Secara umum, masyarakat menyatakan setuju dengan upaya penertiban. Selain berdampak pada ketertiban dan keindahan kota, persoalan ini juga menyentuh aspek kemanusiaan yang memerlukan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan.
Salah seorang tunawisma, Sri (43) mengaku, merantau ke Bandung untuk mencari pekerjaan demi menghidupi anaknya. Namun keterbatasan kesempatan kerja membuatnya terpaksa bertahan hidup di jalanan.
“Saya merantau karena mau cari kerja, tapi susah. Yang penting bisa ngasih nafkah buat anak,” tuturnya saat ditemui di kawasan Saparua.
Sri mengaku saat ini kerap tidur di trotoar dan berpindah-pindah lokasi, seperti di kawasan Jalan Banda dan Jalan Riau. Ia berharap pemerintah dapat membantu masyarakat kurang mampu, khususnya dalam pemenuhan hak pendidikan anak-anak.
(Ringkasan seminar pendidikan Islam, oleh Ustadz Asep Sobari, Lc)

Maka, yang dibutuhkan dalam proses mendidik anak adalah lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan bukan berarti kawasan steril, tidak ada maksiat di dalamnya, dst karena sudah pasti ini tidak realistis & mustahil. Hal-hal tidal ideal tsb adalah bagian dari pendidikan dan dinamikanya. Bahkan kisah dalam Quran paling banyak adalah ttg Firaun dan Musa as. Yang penting bagi kita adalah menjalani dalam semangat dan ruh pendidikan.
Nabi Adam as ketika bersalah memakan buah yang dilarang, ia pun bertaubat, “Rabbana dzolamna… “ bukan “Maaf, saya salah pilih…”. Maka, konsekuensinya turun ke muka bumi, bentuk tanggung jawab.
Ka’ab bin Abdul Malik, tidak ikut perang Perang Tabuk walau mampu. Konsekuensinya selama 1 bulan tidak berbicara kepada siapapun bahkan keluarganya.
Hukuman bagian dari tanggung jawab. Setiap yang anak lakukan harus dipertanggungjawabkan. Pilihanpun mesti ditanggungjawabkan. Tanggung jawab adalah fundamental/substansi dalam pendidikan. Karena akhirnya apa-apa yang dilakukan akan diperpertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Jangan memfokuskan kesalahan/masalahanya. “Kamu tahu begini aturannya, dan kamu tidak melakukannya..”.
2. Qudwah (keteladanan dalam tindakan dan tafakkur dalam ucapan). Dalam islam bukan kerja-kerja-kerja, tapi mesti dididik bersamaan antara amal dan ilmu.
Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama
PERNAHKAH Anda berjumpa dengan seseorang yang menginspirasi tak hanya lewat pengetahuannya, tetapi juga sikapnya yang begitu mulia dan penuh kasih? Saya merasa beruntung dapat mengenal Nilla Nargis Yohansyah, S.H., M.Hum., seorang pendidik, penulis, dan sosok ibu yang tak hanya dikagumi, tetapi juga disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Melalui…
Akses Jalan dan Sekolah di Aceh Utara Mulai Pulih
UPAYA percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Utara terus dilakukan melalui pembersihan material kayu yang menutup akses jalan dan sekolah serta normalisasi fasilitas pendidikan yang terdampak.
Salah satu fokus kegiatan pemulihan berada di Gampong Geudeumbak, Kecamatan Langkahan. Tenaga Ahli BNPB Brigjen TNI Asep Dedi Darmadi menjelaskan, operasi pembersihan akses jalan di wilayah tersebut dimulai sejak masuknya dua unit excavator pada 19 Desember 2025.
Selanjutnya, enam unit alat berat tambahan dikerahkan dari Kementerian Kehutanan, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Dinas Pekerjaan Umum daerah.
“Saat ini fokus utama adalah membuka akses jalan yang tertutup material kayu agar dapat menjangkau dusun dengan akses terbatas, yakni Dusun Pante Rusep,” ujar Asep.

Pendidikan moral menjadi isu yang semakin penting, terutama di kalangan pelajar. Dengan adanya masalah degradasi moral yang terlihat di antara generasi muda, kita perlu lebih fokus pada pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, budaya lokal, dan ajaran agama. Pendidikan moral bukan hanya tentang mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk, tetapi juga tentang membentuk karakter dan kepribadian siswa melalui pendekatan yang menyeluruh.
Pendidikan moral yang efektif, menurut Lickona, harus mencakup tiga komponen utama: pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Ketiga elemen ini perlu diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan agar dapat menciptakan individu yang berakhlak baik.
### Pentingnya Pendidikan Moral
Di Sumbawa Barat, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, terdapat banyak budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai moral. Misalnya, tradisi gotong royong seperti sistem Basiru mengajarkan pentingnya saling membantu dan bekerja sama. Namun, pengaruh budaya global melalui media sosial dan teknologi informasi telah mengubah pola pikir dan perilaku generasi muda. Kita bisa melihat fenomena seperti kenakalan remaja dan menurunnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, yang menunjukkan betapa mendesaknya revitalisasi pendidikan moral.
Berkowitz dan Bier juga menekankan bahwa pendidikan karakter yang terencana dan berkelanjutan dapat mengurangi perilaku berisiko di kalangan remaja dan meningkatkan prestasi akademik. Ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak hanya berkontribusi pada pembentukan karakter, tetapi juga dapat berdampak positif pada keberhasilan akademik siswa.
### Strategi Implementasi Pendidikan Moral di Sekolah
Untuk menerapkan pendidikan moral di Kabupaten Sumbawa Barat, diperlukan strategi yang menyeluruh dan melibatkan berbagai pihak. Pertama-tama, kurikulum pendidikan harus mengintegrasikan nilai-nilai moral tidak hanya dalam mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pancasila, tetapi juga dalam semua mata pelajaran. Ini sejalan dengan konsep kurikulum terintegrasi yang diusulkan oleh Dewey, di mana pendidikan moral harus menjadi bagian dari keseluruhan proses pembelajaran.
Selanjutnya, metode pembelajaran yang digunakan harus melibatkan siswa secara aktif. Metode seperti diskusi tentang dilema moral, bermain peran, dan proyek sosial dapat membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai moral dengan lebih baik. Nucci menunjukkan bahwa pembelajaran moral yang melibatkan diskusi dan refleksi jauh lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah yang satu arah.
Keteladanan dari guru juga sangat penting. Menurut Bandura, anak-anak belajar melalui observasi dan imitasi. Oleh karena itu, guru harus menjadi teladan yang baik bagi siswa, bukan hanya pengajar.
### Peran Budaya Lokal dalam Pendidikan Moral
Kearifan lokal di Sumbawa Barat memiliki banyak nilai moral yang relevan dengan pendidikan karakter. Tradisi seperti Barapan Kebo, yang mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin, keberanian, dan sportivitas, harus diintegrasikan ke dalam pendidikan formal. Selain itu, nilai gotong royong yang terkandung dalam budaya basiru juga dapat menjadi sumber nilai moral yang penting.
Integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran terbukti memperkuat relevansi pendidikan moral dan memudahkan siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Pendidikan yang berakar pada budaya lokal akan lebih bermakna dan mudah dipahami oleh siswa karena sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari mereka.
### Sinergi antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat
Pendidikan moral tidak akan optimal tanpa kerjasama yang baik antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keluarga berperan sebagai madrasah pertama yang menanamkan nilai-nilai dasar moral sejak dini. Pola asuh yang demokratis dan penuh kasih sayang lebih efektif dalam membentuk karakter positif dibandingkan pola asuh yang otoriter.
Sekolah kemudian memperkuat nilai-nilai yang telah ditanamkan di rumah melalui program-program terstruktur. Masyarakat juga memiliki peran penting, terutama di Sumbawa Barat yang memiliki ikatan komunal yang kuat.
Kolaborasi antara tokoh agama, tokoh adat, dan pemuda dengan sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan yang mendukung pembentukan karakter sangatlah penting.
### Tantangan dalam Implementasi Pendidikan Moral
Meskipun penting, implementasi pendidikan moral di Sumbawa Barat menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kurangnya pemahaman dan kompetensi guru dalam mengajarkan pendidikan moral secara efektif. Solusinya adalah memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru mengenai metodologi pendidikan karakter.
Selain itu, pengaruh negatif dari media sosial dan teknologi juga dapat menggerus nilai-nilai moral. Oleh karena itu, literasi digital menjadi penting agar siswa dapat menyaring informasi dan menggunakan teknologi dengan bijak.
Terakhir, ada inkonsistensi antara nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dan praktik di lingkungan keluarga dan masyarakat. Ini memerlukan komitmen dari semua pihak untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung.
### Kesimpulan
Pendidikan moral adalah fondasi penting dalam membangun generasi yang berakhlak baik di Sumbawa Barat. Keberhasilan pendidikan moral memerlukan pendekatan yang holistik, mengintegrasikan nilai-nilai agama, budaya lokal, dan kearifan universal. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat adalah kunci untuk mencapai tujuan ini. Pemerintah juga perlu merumuskan kebijakan yang mendukung pendidikan moral, termasuk alokasi anggaran untuk pelatihan guru dan pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal. Dengan investasi dalam pendidikan moral, kita berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik bagi Kabupaten Sumbawa Barat.
Baca selengkapnya di Batuter.Com
Link Center : https://tautanku.com/batutercom
KALBAR SATU ID – Tim Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Agama Republik Indonesia mengakhiri rangkaian kunjungan kerjanya di Kalimantan Barat dengan menggelar exit meeting di Kampus 2 MAN 1 Pontianak, Jalan Pemda Tanjung Raya, Selasa (23/12/2025).
Kegiatan ini menjadi penutup proses evaluasi terhadap pelaksanaan Asta Protas Kementerian Agama RI, sekaligus momentum penyampaian hasil temuan,…
Exit Meeting Itjen Kemenag di MAN 1 Pontianak, Bahas Penguatan Tata Kelola Pendidikan
SURAU.CO – Di sebuah ruang kelas sederhana, bangku-bangku telah terisi. Mayoritas oleh para ibu wajah penuh perhatian, catatan kecil di tangan. Namun di antara mereka, berdirilah seorang ayah. Tidak banyak bicara, langkahnya tenang, pakaiannya rapi seadanya. Ia datang bukan untuk pamer, bukan pula untuk sekadar formalitas. Ia datang untuk satu hal: mengambil rapor anaknya.
Pemandangan ini…
Ayah yang Mengambil Rapor Anak: Pendidikan yang Dimulai dari Kehadiran