Realized I have more degrees that I’ve had boyfriends or romantic interactions with the male species
Realized I have more degrees that I’ve had boyfriends or romantic interactions with the male species
“The Lord looks down from heaven on the entire human race;He looks to see if anyone is truly wise, if anyone seeks God.”— Psalm 14:2
There is something sobering about this picture.
God is not distracted. He is not uninvolved. He is not indifferent.
He is looking.
Not casually. Not randomly. Intentionally.
He scans the whole human race—not just pastors, not just leaders, not just the…


Funny how, if I’m supposedly so “uneducated”, I’m able to list several colleges courses I took (and passed) at two different institutions of higher education (Hudson Valley Community College and the State University of NY at Albany). Graduated with honors from both.
Never fails to make me laugh.
Hari ini aku menamatkan buku keduaku di tahun 2026, yaitu Educated oleh Tara Westover. Buku memoir 352 halaman ini telah membuatku tercengang, bergidik, dan ternganga. Meskipun alur ceritanya tidak berpusat pada peribadatan atau penyembahan terhadap Tuhan, menurutku memoar ini mengisahkan tentang perjalanan spiritual Tara selama hidupnya, dari remaja hingga saat ia menuliskan buku ini. Buku ini membawa kita ke dalam pencarian jati diri dan melihat bahwa pendidikan berperan besar terhadap cara seseorang memandang kehidupan.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku membaca buku sejenis. Mungkin, saat SMA? Namun, sejauh yang mampu aku tarik dari pengalaman membacaku, ini buku autobiografi pertama yang aku baca dengan penuh perhatian dari awal hingga akhir. Aku sedikit menyesal tidak meninggalkan catatan atau membuat thread di X untuk merekam pengalaman dan perasaan saat aku mencapai bab tertentu di buku ini.
Banyak detil kehidupan seorang warga negara Amerika yang belum dapat aku gambarkan dengan baik ketika membaca kisah masa kecil Tara. Aku hanya mampu membayangkannya sebagaimana scene di film Hollywood. Namun, tidak sedikit juga cerita Tara dapat aku proyeksikan kepada kisah hidupku, terutama tentang hubungannya dengan ayah dan ibunya: tentang menyadari dan menerima perbedaan prinsip di dalam sebuah keluarga dan cara Tara menyikapinya.
Pada saat aku mengetik ini, aku berusaha mengingat responku terhadap bagian-bagian cerita di buku ini. Setiap kali Tara mendeskripsikan tentang ayahnya yang cenderung mendominasi keluarga, aku menginternalisasi dan ikut merasakan gejolak emosi yang sama. Ketika Tara menceritakan tentang ibunya yang rajin dan penurut, aku juga jadi teringat ibuku. Ketika ia menceritakan perjalanannya menempuh pendidikan formal yang dia kira akan mustahil, aku pun merasakannya saat kuliah S2 beberapa tahun lalu. Yang sedikit berbeda adalah bahwa Tara adalah anak bungsu –sedangkan aku anak sulung– dan ia masih memiliki kakek dari pihak ayah dan ibunya –hmm.. bagaimana rasanya punya kakek? Aku tidak pernah punya pengalaman itu sejak aku lahir.
Karena buku ini adalah memoir dan bukan fiksi, sayangnya –dan tentunya– tidak ada konklusi yang fantastis. Membacanya, kita tidak akan dibawa kepada angan-angan kemenangan tokoh utama atau kekalahan tokoh antagonis. Tidak ada keajaiban. Tidak ada pahlawan atau plot-twist yang berlebihan. Semua terasa sangat organik. Dan kealamian itu yang membuat tragedi yang terjadi menjadi terasa amat menyesakkan dada.
Di buku ini, aku juga belajar bahwa penerimaan memang salah satu tahap akhir dari menghadapi pengalaman buruk atau duka. Di saat Tara sudah bisa menerima bahwa ia berasal dari Idaho, dari keluarga Mormon, atau dari lingkungan yang tidak memberinya kesempatan untuk bersekolah formal, di saat itulah ia mampu mengakui jati dirinya. Di titik itulah ia mampu menjadi dirinya sendiri dan tidak lagi menutup-nutupi identitasnya di depan orang lain.
Aku punya beberapa kutipan favorit, terutama di setengah bagian akhir buku ini. Mungkin ini akan menjadi sangat personal.
Aku bisa menoleransi segala bentuk kekejaman dengan jauh lebih baik, daripada kebaikan. Pujian adalah racun bagiku; aku tersedak karenanya. Aku ingin profesor itu meneriaki aku, begitu besar aku menginginkannya, sehingga pusing karena merasa ada yang kurang. Keburukanku harus diungkapkan. Jika itu tidak diungkapkan dengan suaranya, aku perlu mengungkapkannya dengan suaraku.
//
Kedamaian itu tidak datang dengan mudah. Selama dua tahun aku terus-menerus menghitung kekurangan ayahku, memperbarui penghitungannya, seakan-akan dengan menghafalkan setiap kebencian, setiap tindakan kejam atau pengabaian, baik yang nyata dan yang dibayangkan, akan membenarkan keputusanku untuk menghilangkannya dari kehidupanku. Setelah meyakini kebenaran atas keputusanku, kupikir aku akan terbebas dari rasa bersalah yang mencekik, dan aku akan bisa menarik napasku kembali.
Tapi rasa pembenaran tidak memiliki kuasa atas rasa bersalah. Kemarahan atau amarah yang ditujukan kepada orang lain tidak dapat menghilangkannya, karena rasa bersalah tidak pernah merupakan masalah tentang mereka. Rasa bersalah adalah ketakutan seseorang akan kemalangannya sendiri. Dan itu tidak ada hubungannya dengan orang lain.
Aku belajar bahwa setiap orang punya ujian kehidupan masing-masing. Entah itu dari orang tua, dari saudara, dari kerabat, dari pertemanan, dari percintaan, dari karir, dari diri sendiri. Kita tidak perlu terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuan atau kesalahan yang kita lakukan. Kita hanya perlu mengakui apa yang kita butuhkan dan mengupayakan apa yang bisa diupayakan. Sejalan dengan itu, keimanan terhadap takdir akan membawa kita untuk menyerahkan hal-hal di luar kuasa kita kepada Tuhan.
–
25 Januari 2026
open.spotify.com/episode/3RNQzBpGwa1dw6EXJuPCbD
The seed of curiosity had been planted; it needed nothing more than time and boredom to grow.
Educated, Tara Westover
I am not the child my father raised, but he is the father who raised her.
Educated, Tara Westover
Well U.S. Education System, I’d say you’ve officially won. My transformation into poverty, chronic sleep deprivation, and high suggestibility to your government’s agenda is complete… with the cherry on top being I did it to myself willingly…
What a hat trick
maybeeee it’s time to invest in a coloring book instead of wanting to kill myself when things don’t go my way

spending my day in Prague educating myself. just because I like daddy to think for me doesn’t mean I can’t have a brain 😉