#bising

20 posts loaded — scroll for more

Text
clichemistry
clichemistry

Betapa bisingnya zaman ini.

Setiap sudut penuh dengan suara ambisi, setiap langkah dipacu oleh keinginan untuk diakui, dan setiap orang berlomba mengejar pencapaiannya sendiri.

Namun yang paling menyedihkan adalah ketika sebagian dari mereka memilih jalan yang kotor—cara yang rendah, memuakkan, mengorbankan kehormatan demi hasil yang cepat tanpa peduli bagaimana mereka sampai ke sana.

Seolah pencapaian lebih penting daripada marwah, seolah pengakuan lebih berharga daripada integritas, seolah dunia bisa menghalalkan segala cara.

Dan di tengah kebisingan ini, hamba yang ingin menjaga hati sering kali tampak asing—karena ia memilih jujur saat yang lain memanipulasi, ia memilih sabar saat yang lain saling menjatuhkan, ia memilih bersih saat yang lain sibuk mengotori diri.

Zaman menjadi bising bukan karena suara manusia, tetapi karena hilangnya suara hati.

Text
clichemistry
clichemistry

Di tengah dunia yang berisik, di mana setiap suara ingin menang sendiri, aku belajar untuk diam, bukan karena tak punya kata, tapi karena tak ingin menambah gaduhnya semesta.

Aku belajar, bahwa kebaikan tak perlu berteriak untuk bisa terdengar. Ia hanya perlu hadir, lembut seperti angin, tulus seperti cahaya yang datang tanpa undangan.

Kadang, dunia memanggil dengan amarah, menggoda dengan kebencian, menyulut dengan ego dan balas dendam.

Namun aku tahu, satu kebaikan kecil bisa lebih nyaring daripada ribuan suara yang saling membentur.

Maka biarlah aku tenang, biarlah aku lembut, biarlah aku tetap manusia, yang meski hidup di tengah bising, masih memilih menjadi teduh.

Karena di akhir segalanya, bukan suara yang akan diingat, melainkan hati yang sempat meneduhkan.


@clichemistry

Text
afifaharyani09
afifaharyani09

Walau rasaku belum bertepi

Aku tahu, akan ada pembelajaran disini

Pasti,

Karena tidak akan ada rasa yang sia-sia


Aku hanya takut sukar mematikan harap

Jika pada akhirnya kami tidak tersurat

Kekhawatiran ini membisingkan diri

Andaikan bisa, sebentar saja…

Aku ingin tahu, apakah itu kamu yang tertulis di lauhil mahfudzNya?

Tapi bukankah itu mustahil,

Bukankah tugas kita untuk berbesar harap padaNya?

Bukan pada makhluk.

Text
afifaharyani09
afifaharyani09

Aku lebih tahu, bahwa menghindari pertanyaan yang mungkin hanya basa-basi itu adalah hal salah.

Tapi kali ini, justru aku melakukannya.

Bukankah “tidak boleh baper”?

Betul, dan aku tahu mungkin mereka bertanya sebagai tanda dari “basa-basi” yang tak peduli kedepannya seperti apa menjalaninya.

Tapi, untuk kali ini, boleh kan menerima rasa ini? Rasa yang justru tanpa ditanya-pun diri ini sudah cukup dengan kebisingan di kepala. Melow sekali rasanya.

Kali ini saja, mohon do'akan yang terbaik. Aku tidak sedang menyalahkan rasa ini atau bahkan pertanyaan yang ada diluar kendaliku, hanya berbagi rasa barang kali sedang di posisi yang sama, kita tidak sendiri. “Imani bahwa ini yang terbaik” kata guruku begitu:)

Text
diksibising
diksibising

Bohong kalau aku tak iri

Pada mereka yang hidupnya serba ada, bahkan masa depannya sudah disusun rapi oleh orang tuanya.


“berbeda denganku yang hanya dibekali tulang dan hati selalu kuat Menjalani semuanya.


Text
jenamaaircond
jenamaaircond

Aircond kereta berbunyi bising kuat seperti gas, ular, angin, atau air sering kali menjadi tanda awal kerosakan komponen utama.

Text
diksibising
diksibising

Terkadang orang menganggap masalah itu adalah ujian.

Padahal masalah itu datangnya bukan dari Allah, tapi datangnya dari diri manusia. Sebab, manusia tempatnya salah dan suka bikin masalah.

Allah hanya memberikan ujian. Yaitu sebuah kesulitan bukan sebuah masalah.

Kesulitan itu beda dengan masalah. Kesulitan itu ada yang ngasih, sedangkan masalah datang dari manusia atau dari kita sendiri.

Kesulitan/kendala itu adalah ujian sedangkan masalah bukan ujian. Karena setiap siapapun yang buat atau bikin masalah harus siap segala konsekwensinya. Jadi masalah ini adalah teguran bukan ujian.

Coba disaat kita duduk di bangku sekolah di saat semester tiba, ibu/bpa guru ngasih apa? Sudah pasti ngasih soal ujian atau tugas yang harus di jawab, di selesaikan. Dan disaat siswa yang mengerjakan soal tugasnya, dirinya pasti akan mendapatkan entah sedikit atau banyaknya kesulitan. Dan jika siswa yang tidak mengerjakan soal tugasnya, maka dirinya akan mendapatkan masalah bukan kesulitan. Dikarenakan dirinya tidak mengerjakan tugasnya.

Disini tentu saja yang mengerjakan akan naik kelas yang disebut lulus. Sedangkan yang tidak mengerjakan sama sekali sudah pasti akan mendapatkan masalah. Karena dirinya tidak naik kelas yang disebut ngen'dok.

Beda arti antara kesulitan dan masalah. Ujian dan teguran.

Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan setiap masalah harus di hentikan.

Text
kuaslangit
kuaslangit

Terlalu riuh, sampai tak tahu mulai dari mana

Text
diksibising
diksibising

Renungan di sore hari, sambil melihat tenggelamnya matahari. Senja itu sebagai penutup didalam sebuah kisah, dan juga sebagai pengingat bahwa semua manusia di dunia ini hanya singgah.

Hai kamu yang jauh disana!

Allah memberimu hidup. Bukan berarti kamu yang menginginkannya. Tapi ada orang yang menginginkanmu untuk dihidupkannya.

Untuk membimbingmu, menguatkanmu, dan menjagamu. Sebab; Allah menciptakanmu pasti ada maksud dan tujuannya, begitupun setiap diri mempunyai tugas dan fungsinya.

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Maka jadilah manusia, yang bisa memanusiakan manusia.

Text
diksibising
diksibising

Duduk didepan rumah melihat ke jalan, terpikirkan tentang sebuah masa depan. Sebuah perjalanan hidup yang semakin hari semakin menantang, diluar sana banyak sekali tantangan, rintangan dan juga godaan yang akan siap menerjang.

Tetap optimis dan terus berjuang, jangan sampai jadi pecundang.

Sebab; Hidupnya manusia bukan hanya sekedar hidup, karena hewan yang tinggal di hutan pun hidup. Kerjanya manusia bukan hanya sekedar kerja, Karena hewan pun ada yang bekerja.

Maka jangan pernah sekali-kali kita lupa, kita hidup untuk apa?


اَيَحْسَبُ الْاِ نْسَا نُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًى 

“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?”

(QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 36)

Text
diksibising
diksibising

Apakah ini yang dibilang rindu?

Berkawan di jejaring biru, seakan lupa jarak dan waktu.

Nyaman, tentram tak ada jemu ingin menulis selalu, bahkan disaat pikiran ini mulai beranjak berlalu.

Text
diksibising
diksibising

Ya Allah, dengan lantang akan ku sebut aku ingin sukses, bukan karena ingin kaya, melainkan aku hanya ingin menebus beberapa rasa sakit yang tak terbayar dengan uang, beberapa air mata yang turun karena diragukan, dan beberapa luka di hati karena dianggap tidak pantas. Ya Allah, aku ingin mengangkat derajat keluargaku, aku ingin membalas air mata dan keringat mereka yang telah membesarkanku, maka permudahkanlah jalanku ini Ya Allah.

Text
akulea
akulea

Jika kamu pernah dihadapkan pada kematian, lantas tak membuatmu lebih dekat dengan Allah, maka dengan cara apalagi agar kamu bisa lebih taat?

Text
akulea
akulea

Kalau dipikir-pikir, akar kemiskinan atau keterbelakangan desa belakangan ini muncul atau terdefinisikan dari modernisasi. Sebenarnya, menuruktku, desa itu tidak identik dengan keterbelakangan. Desa itu tidak identik dengan primitif, desa itu tidak identik dengan kemiskinan. Moderinasi oemerintahlah yang menyebabkan masyarakat desa merasa dirinya miskin. Modernisasi memberikan ruang bernama haraoan hamoa nan kosong dalam masyarakat desa. Mereka merasa miskin karena tidak mamou memiliki apa yang dimiliki orang kota.

Padahal menurutku, masyarakat desalah yang PALING KAYA RAYA di muka bumi ini. Modernisasi pemerintah dan oknum-oknum tertentulah yang membuatnya terlihat miskin

Text
akulea
akulea

Mana Ada

Aku sedang hidup di dunia yang tidak adil. Yang mana, aku disalahkan karena umurku yang tak lagi muda

Aku sedang hidup di dunia yang tak adil. Yang mana, mereka mempertanyakan kenapa baru sekarang aku memulainya

Aku sedang menghadapi dunia yang tak adil. Aku memaksa diri untuk terus melaju saat jiwa raga sedang hancur. Namun, jika aku berhenti maka diriku akan menjadi bubur

Aku sedang menghadapi dunia yang tak pernah adil. Sekeras apapun aku berusaha, segiat apapun aku belajar, dan seberkualitas apa diriku ini masih saja kalah dengan mereka yang tak pernah berjuang dalam keadaan suci dan juga mengandalkan koneksi tanpa bukti diri

Alamak, aku harus berhati-hati.

Text
afifaharyani09
afifaharyani09

“Wush, kamu ini jangan mendahului takdir!” Jawab Tiara setelah menanggapi Muti yang tiada henti menerka akan apa yang seseorang fikirkan.

“yahhh, kamu juga bisa menilai sendiri Ra! Dia sudah berhari-hari hilang tanpa kabar, apa mungkin dia serius dengan hubungan ini? Dia cuma lagi jadi pecundang aja!” dengus Muti sembari melipat-lipat kertas dihadapannya.

“sabar dulu Mut, gak semuanya harus selesai dalam sekejap, semua perlu proses. Jangan terlalu fokus dengan kekhawatiran yang pada akhirnya tidak membawamu kemanapun. Fokus pada dirimu, boleh jadi Allah menunda pendekatanmu, karna ada sesuatu yang harus dibenahi terlebih dahulu, entah itu masa lalu atau tingginya egoisme-mu itu”

“halah, semua orang pandai dalam teori Ra, sama seperti saat kita berdiri di tepi laut. Kita bisa memandang dan membicarakannya dengan indah, tapi untuk masuk kedalam lautan, justru kita yang tenggelam”

Text
arunika-sy
arunika-sy

Rasa

Beberapa kali sempat terfikir,

Ingin menjauh dari semua kebisingan ini,

Ingin meredam segala suara sorak sorai manusia,

Ingin berada ditempat yang adem, hijau, sejuk, santay melihat pemandangan luar dari dalam jendela rumah,

Ingin berdiam dirumah sambil baca buku, menikmati coklat panas, sambil merenung,

Tapi…

Sepertinya itu tidak dulu untuk direalisasikan

Untuk sementara, bersabar serta bersyukur dengan segala yang ada, sembari meyakinkan diri untuk tidak menyerah dengan keadaan.

Text
yaninurhidayati
yaninurhidayati

Sebuah Pilihan

“Kakak! Mama nggak suka kamu main hape terus! Sana belajar!” suara bising itu dimulai pagi ini. Seorang wanita yang memiliki anak tiga itu kembali memainkan nada tinggi. Ia tinggal rumah petak sebelah. Setiap hari, ia meneriakkan hal yang sama. Suara bising yang menjadi nyanyian pagi Sara dan Rio. Bukan nyanyian yang meneduhkan, namun merisaukan.

Sara dan Rio sudah pindah ke rumah petak berukuran cukup sejak bulan ke-3 pernikahan mereka. Keputusan yang harus mereka ambil agar lebih banyak yang bisa dihemat. Namun, sepertinya keputusan itu harus diubah. Sejak lima hari lalu, kebisingan itu makin menjadi-jadi. Hampir setiap hari. Terlebih ketika putra bungsu tetangga mereka itu lahir. Iya, jarak umur anak-anak wanita itu tidak terlampau jauh. Masing-masing empat tahun. Jarak yang cukup, memang. Namun, ketika emosi sang ibu tak bisa diregulasi, maka kebisingan yang terjadi. Bukan hanya mengganggu dirinya secara pribadi, juga mengganggu tetangga kanan kiri di kompleks rumah petak itu.

“Kenapa, sayang?” tanya Rio menyentuh pundak Sara yang (sepertinya) sedang melamun, lalu duduk di samping Sara.

“Eh, kamu. Nggak kenapa-kenapa kok,” jawaban klise yang keluar. Nggak kenapa-kenapanya wanita artinya ada apa-apa.

“Kita cari rumah petak lain, yuk!” Rio to the point.

“Lho, kenapa?” tanya Sara terkejut.

“Rumah petak ini terlalu bising, bukan?”

“Hm…”

“Menjadi orang dewasa itu ternyata berat, ya. Inget, nggak, diskusi kita yang dulu? Apa sih yang kita harapkan dari pasangan kita saat setelah menikah? Bagaimana cara kita masing-masing berdamai dengan keadaan dan meregulasi emosi yang terkadang datang dari masa lalu untuk bisa tetap merespon dengan baik di situasi sekarang?”

“Ingat.”

“Nyanyian yang kita dengar setiap hari bisa menjadi trigger buat kita, kalau kita nggak lekas-lekas meregulasi emosi kita. Aku lihat, kamu mulai terganggu dengan nyanyian itu.”

Sara menghela nafas, “Sayang… hm… semenjak kita pindah ke rumah petak ini, aku nggak pernah srawung ke tetangga, ya. Kita berangkat selalu pagi-pagiii banget. Pulang, maleeem banget. Weekend lebih banyak kita habiskan di rumah ibu atau bunda.”

“Iya,” Rio menganggukkan kepala.

“Baru lima hari terakhir ini, kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ini. Baru sekadar menganggukkan kepala kepada semua yang lewat di depan rumah kita. Belum sempat ngobrol banyak. Termasuk ke tetangga kita sendiri.

"Terima kasih, ya. Sudah peka terhadap raut wajahku yang mungkin berubah di beberapa hari terakhir ini. Aku sempat berpikir, apa iya nanti ketika bayi kita lahir, aku juga akan menjadi seperti dia? Apa iya babyblues yang kata banyak ibu muda membuat useless seorang ibu, akan menghampiriku? Apa iya hubungan suami istri setelah kehadiran bayi ada peluang untuk makin tidak harmonis? Apa iya aku akan berubah semenyeramkan itu?” ungkap Sara khawatir sambil memegang perutnya yang sudah membesar.

“Sayang…” Rio memegang tangan Sara sambil tersenyum, “doain aku, ya! Doain aku agar aku bisa tetap mendampingi kamu dan mendukung kamu, bagaimanapun nanti perubahan yang kamu alami pasca melahirkan nanti.”

Sara memandang jalanan depan rumah, menoleh ke arah Rio dan melemparkan senyum, lalu mengangguk.

Text
sevenedelweiss
sevenedelweiss

Yang terjadi kemarin.

Riuh yg teramat sangat… Bising berkepanjangan hingga menguak luka2 lama yg terkubur dalam. Sebegitu hebatnya kelam muncul krn tidak adanya penerimaan yg aku butuh. Benar2 tak bisa bercerita jika khawatirku telah menjelma menjadi badai yg ganas. Benar2 di luar nalar.. Benar2 melelahkan.. Dan benar2 membuat dada sesak.

Aku lelah dg kelelahan yg teramat sangat. Aku bosan berada di tengah badai dg setiap detik terseret garis waktu. Aku ingin pulang tapi tak tahu hendak kemana. Aku tenggelam dalam lumpur hisap…

Aku ingin hilang…

Text
theartismi
theartismi

Tak bisa mengungkapkan

Mungkin ini yang selalu kurasakan ketika harus bertemu dengan orang dan menaruh harapan pada setiap jiwa yang tumbuh , rasa kecewa yang terus melanda dan tak mampu diungkapkan adalah hal yang bising dikepalaku, aku memilih diam untuk semua yang terjadi kepadaku kuharap ini semua ada Tuhan yang menilai apa yang kurasakan hari ini