Sebuah Pilihan
“Kakak! Mama nggak suka kamu main hape terus! Sana belajar!” suara bising itu dimulai pagi ini. Seorang wanita yang memiliki anak tiga itu kembali memainkan nada tinggi. Ia tinggal rumah petak sebelah. Setiap hari, ia meneriakkan hal yang sama. Suara bising yang menjadi nyanyian pagi Sara dan Rio. Bukan nyanyian yang meneduhkan, namun merisaukan.
Sara dan Rio sudah pindah ke rumah petak berukuran cukup sejak bulan ke-3 pernikahan mereka. Keputusan yang harus mereka ambil agar lebih banyak yang bisa dihemat. Namun, sepertinya keputusan itu harus diubah. Sejak lima hari lalu, kebisingan itu makin menjadi-jadi. Hampir setiap hari. Terlebih ketika putra bungsu tetangga mereka itu lahir. Iya, jarak umur anak-anak wanita itu tidak terlampau jauh. Masing-masing empat tahun. Jarak yang cukup, memang. Namun, ketika emosi sang ibu tak bisa diregulasi, maka kebisingan yang terjadi. Bukan hanya mengganggu dirinya secara pribadi, juga mengganggu tetangga kanan kiri di kompleks rumah petak itu.
“Kenapa, sayang?” tanya Rio menyentuh pundak Sara yang (sepertinya) sedang melamun, lalu duduk di samping Sara.
“Eh, kamu. Nggak kenapa-kenapa kok,” jawaban klise yang keluar. Nggak kenapa-kenapanya wanita artinya ada apa-apa.
“Kita cari rumah petak lain, yuk!” Rio to the point.
“Lho, kenapa?” tanya Sara terkejut.
“Rumah petak ini terlalu bising, bukan?”
“Hm…”
“Menjadi orang dewasa itu ternyata berat, ya. Inget, nggak, diskusi kita yang dulu? Apa sih yang kita harapkan dari pasangan kita saat setelah menikah? Bagaimana cara kita masing-masing berdamai dengan keadaan dan meregulasi emosi yang terkadang datang dari masa lalu untuk bisa tetap merespon dengan baik di situasi sekarang?”
“Ingat.”
“Nyanyian yang kita dengar setiap hari bisa menjadi trigger buat kita, kalau kita nggak lekas-lekas meregulasi emosi kita. Aku lihat, kamu mulai terganggu dengan nyanyian itu.”
Sara menghela nafas, “Sayang… hm… semenjak kita pindah ke rumah petak ini, aku nggak pernah srawung ke tetangga, ya. Kita berangkat selalu pagi-pagiii banget. Pulang, maleeem banget. Weekend lebih banyak kita habiskan di rumah ibu atau bunda.”
“Iya,” Rio menganggukkan kepala.
“Baru lima hari terakhir ini, kita menghabiskan lebih banyak waktu di rumah ini. Baru sekadar menganggukkan kepala kepada semua yang lewat di depan rumah kita. Belum sempat ngobrol banyak. Termasuk ke tetangga kita sendiri.
"Terima kasih, ya. Sudah peka terhadap raut wajahku yang mungkin berubah di beberapa hari terakhir ini. Aku sempat berpikir, apa iya nanti ketika bayi kita lahir, aku juga akan menjadi seperti dia? Apa iya babyblues yang kata banyak ibu muda membuat useless seorang ibu, akan menghampiriku? Apa iya hubungan suami istri setelah kehadiran bayi ada peluang untuk makin tidak harmonis? Apa iya aku akan berubah semenyeramkan itu?” ungkap Sara khawatir sambil memegang perutnya yang sudah membesar.
“Sayang…” Rio memegang tangan Sara sambil tersenyum, “doain aku, ya! Doain aku agar aku bisa tetap mendampingi kamu dan mendukung kamu, bagaimanapun nanti perubahan yang kamu alami pasca melahirkan nanti.”
Sara memandang jalanan depan rumah, menoleh ke arah Rio dan melemparkan senyum, lalu mengangguk.