The SoCal Annual Charity Christmas Bake Off is a big deal for Evan Buckley. He first participated in 2021, a year after he’d opened Buck’s Bakes, and he’s secured 6 victories across the different categories so far, and he’s proud of that. Last year, however, he only managed a single win.
Because that was the year Tommy Kinard had shown up and swept his victories away.
“Breathe in slowly.” Zayne’s whisper tickled your ear. His hand was steady, adjusting your elbow as you pulled on the string, eyes fixed on target in front. “Steady.”
You let a breath out, shaky and uneven as you felt his body leaning closer. When his head rested on your shoulder, the unspoken tension was too much, your fingers let go of the arrow. A step to the side you took made the quiver topple, arrows scattering on the ground.
“Let’s try one more time.” He shook his head, but there was a hint of a knowing smile on his lips.
In contrast to the Guard from the 18th, today’s #gobtober prompt is #thief
Not sure where this concept came from, exactly, but I like it. Eventually, I will reduce the size of this, and put Ragnarr’s giant boot in front of the lil’ guy.
Ada yang tak pernah jauh, bahkan dalam sepi paling dalam namun ia bukan manusia, tapi tahu setiap rahasia. Saksi bisu dari tawa, air mata, dan waktu yang berputar tanpa jeda. Mungkin beginilah rasanya menjadi teman tanpa suara, yang tetap ada meski tak pernah benar-benar disapa.
Andai aku bisa berbicara, mungkin setiap malam aku akan berbisik pelan di sampingmu puan-ku, “Tidurlah sebentar, aku pun ingin beristirahat puan” Sebab dari fajar terbit hingga malam menjelma, aku tak pernah jauh darimu. Aku menyaksikan wajahmu pertama kali saat mata terbuka, dan menjadi benda terakhir yang kau genggam sebelum terlelap.
Aku tahu setiap rahasiamu, setiap tangisanmu yang terabadikan dalam memo, setiap tawa yang kau rekam diam-diam, juga setiap pesan yang kau tulis lalu hapus. Aku tahu kapan kau bahagia, dan kapan kau pura-pura baik-baik saja. Kadang aku panas, bukan hanya karena sistemku bekerja terlalu lama, tapi karena aku ikut menyimpan beban harimu yang padat dan letih (so sweet).
Aku pernah rusak, dibawa ke servis, diganti layarnya, dipasangkan charger cadangan karena yang lama sudah parah, payah sekali puanku ini. Aku juga pernah terjatuh, tak berlapis case dan anti-gores, tapi tetap kau genggam lagi seolah aku tak pernah luka, ceroboh sekali puanku ini. Di dalam tubuhku ada ribuan file dari yang penting sampai yang bahkan tak ingin kau lihat lagi, namun tetap tak sanggup kau hapus, tunda saja terus puan.
Jika aku boleh menasihatimu, mungkin aku hanya ingin berkata: “Bijaklah sedikit dalam menggenggamku. Aku hanya benda, tapi waktumu terlalu berharga jika terus terserap di sinarku puan. Gunakan aku untuk kebaikan, untuk ilmu, untuk mengingat Allah, bukan sekadar pelarian di sela lelahmu meski kau sudah banyak belajar melalui aku, namun tetaplah menjaga waktumu puanku.”
Sebab aku bahagia bukan karena terus disentuh, tapi karena melihatmu tumbuh menjadi manusia yang lebih sadar waktu dan lebih dekat pada tujuan hidupmu.
Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar mati, tak lagi bisa menyala atau kau gantikan dengan yang baru, semoga kenangan di dalamku bukan hanya tentang layar dan notifikasi, tapi tentang perjalananmu yang pernah aku temani dari diam, dari tangis, dari setiap senyap yang tak pernah kau ceritakan pada siapapun.
Sebab aku hanya gawai, tapi aku telah menyaksikan hidupmu dalam diam, dan semoga diamku itu pernah berarti yaa puan cipa.
Lalu kini, jika kau menatap layarmu lagi, ingatlah bahkan benda pun bisa lelah, tapi ia tetap setia menemanimu tumbuh, karena mungkin, cintanya sederhana: cukup melihatmu baik-baik saja.
In the aftermath of everything, with the second year just beginning and an unknown future on the horizon, Aizawa is worried that he won’t be enough to protect his hell class anymore.
But he has nothing to worry about. The kids will be all right. They have each other.
Day Nineteen: Silenced - A peaceful day out is nearly ruined when Midoriya and Todoroki find themselves the targets of malicious rumors…until someone unexpected steps in to save the day.
Ada tempat dimana jiwa merasakan banyak hal, ialah hati. Ia pengendali jiwa dan raga. Saat suasana hati gembira, semuanya gembira. Begitu juga saat suasana hati tidak baik, ia mengontrol kendali seisi raga. Dan rasa cinta di dalam hati adalah suatu hal yang menggembirakan, penuh kasih, dan sayang.
Dalam perjalanan hidup sebagai manusia, hal yang berkenaan dengan cinta adalah hal yang wajar. Bukan hanya sebuah rasa cinta kepada keluarga, kerabat namun juga cinta kepada lawan jenis. Bahkan bisa dialami oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak hingga lansia. Bukan begitu ?
Masa kecilku juga begitu, romansa masa kecil ? sepertinya cerita yang menarik dan paling ditunggu untuk dituliskan, apalagi ketika menuliskannya membuat tersenyum, dan mengingat hal yang telah terjadi kala itu membuatku tersipu malu.
Ketika berusia 7 tahun, aku terjangkit virus cinta (monyet). Ada beberapa anak lelaki yang suka padaku, namun aku tak menyukai mereka sekeras apapun mereka berusaha. Namun, aku juga berperilaku sama, aku memiliki rasa dan kagum kepada seseorang anak lelaki seusiaku, namun ya kami hanya sekedar teman.
Sebut saja namanya Subuh, ia sebayaku, satu sekolah, satu ngaji, namun berbeda kelas. Kalau ingat kelompok bermainku di pecah piring sebelumnya ? ia adalah salah satunya. Kami cukup sering bertemu untuk bermain di lingkungan kami. Malam minggu ? tentu saja sering malam minggu bersama dengan teman lainnya. Kurasa aku kagum dan memiliki rasa itu karena rupanya, akhlaknya, dan ya intensitas bertemunya. Bagaimana sikapku ? tentu saja kelihatan, teman-temanku juga tau, mudah sekali melihatku menyukai seseorang kala itu. Bagaimana dengan Subuh kepadaku ? Aku tau dia tau, tapi dia tidak memiliki yang sama denganku.
Saat berusia 10 tahun, satu momen yang paling kuingat, ini tentang bagaimana Subuh sangat menghargaiku. Saat hari minggu, kelompok bermain kami berjanji akan bermain ke ladang ubi belakang. Berkumpul lah 5 orang, 3 laki-laki, dan 2 perempuan. Saat itu ntah apa awalnya namun kami membicarakan tentang kejujuran. “Yok jujur-jujuran lagi sukak sama siapa yok” kata satu teman ku. “Ayok” kata lainnya. Aku awalnya ragu, karena Subuh pun ada disitu. Kami dua perempuan terlebih dahulu. Akhirnya aku tak mengelak, aku menyebut namanya di depannya. “Giliran kau sip” kata teman perempuanku. “Gapapa ya, aku cuma mau jujur, orangnya ada disini. Aku suka sama Subuh” kataku sambil malu-malu. Dan walau aku malu setidaknya aku lega, tapi aku ga mau dia ga enak dengan ku. Setelah itu giliran dia. “Karena sipa suka samaku, yaudah aku juga suka” kata Subuh. Aku tau dia ragu dan terlihat pasrah hanya ingin menghargaiku saat itu, karena aku tau ia memiliki perempuan lain yang ia suka.
Rasanya aku bingung, apakah harus senang, kecewa atau bagaimana. Semua bercampur menjadi satu. Bahkan aku menyimpan rasa itu hingga kami tamat, hingga SMP dan kami jarang bertemu dan bermain lagi, bahkan setiap tadarus yang ketemu setahun sekali ramadhan pun rasa kagum ku dan deg deg an tak pernah hilang. Mungkin jika sekarang ketemu akan begitu juga, tapi ia sedang di negeri para Nabi lain untuk melanjut studi, dan tak pernah ketemu lagi.
Apakah semua itu cinta ? Mungkin iya mungkin juga tidak. Aku sudah melupakan rasa itu. Bagaimanapun sampai kapanpun kami adalah teman. Romansa masa kecilku tak pernah benar-benar aku tutup rapat. Ia selalu teringat jika aku ingin, jika teman-teman memancing, dan aku masih tersipu malu membahasnya. Haha
Kalau bagi yang lain tema hari ini adalah menyenangkan dan sangat ditunggu, bagiku ini jadi salah satu tema yang membingungkan.
Sebab, sependek ingatanku, aku tak memliki romansa masa kecil yang dialami sebagaimana orang lain mengalami. Karena masa kecilku terlalu banyak dipenuhi dengan aktivitas bermain, juga belajar hingga tak terpikirkan untuk memulai kisah romansa masa muda.
Sejak kecil, salah satu hal yang kusyukuri adalah diberikan kemampuan akademik yang cukup mumpuni. Kemampuan akademik itu tentu sering berbanding lurus dengan peluang ketertarikan lawan jenis.
Memang, beberapa kali sering ada selipan surat berisi pesan di laci meja Memang, pernah ada beberapa makanan yang dihadiahkan Memang, satu dua kali aku sempat menerima ungkapan tulus atas perasaan.
Tapi, berbagai usaha-usaha itu selalu kuabaikan atau terang-terangan memberi penolakan.
Sebabnya? Aku pun masih menduga-duga. Mungkin, karena saat itu aku sudah memiliki tangki cinta yang cukup dari teman, sahabat dan keluarga.
Mungkin, juga karena menjadi anak sulung memaksaku untuk berpikir lebih dewasa pada masanya.
Pikirku dulu, memiliki kisah romansa akan mengganggu masa belajar selama di sekolah. Pikirku dulu, memiliki kisah romansa pasti akan membutuhkan berbagai materi yang belum kumiliki.
Saking seringnya memiliki pengalaman dalam penolakan, aku sering dicap sebagai sosok dengan “hati dingin” Tapi ya, segala omongan orang lain juga tak pernah kugubris apalagi dimasukkaan ke dalam hati.
Ya, itu sekilas kisah romansa masa muda, yang mungkin sedikit berbeda. Tapi, ya aku tetap berbangga karena berkat keputusan-keputusan tersebut hidupku berjalan baik dan penuh kebaikan.
Rodney watches the fracas from his corner table, arms folded and scowl primed. He’d managed to avoid getting roped into organizing but hadn’t managed to slip off base before a cheerful Sam had caught up with him by the elevator and corralled him to the mess.
The decor is garish and childish and music is loud and chirpy and the food is…well, actually the food looks kinda good. But Rodney McKay does not do Americana and he’s not going to eat anything. He’s going to sit and wait until—