Ada sebagian orang meyakinkan bahwa Asmaul Husna kalau sekadar diucapkan tapi tidak diwujudkan dalam tindakan maka manfaatnya sedikit. Statemen ini ambigu. Statemen ini membuat iman seseorang akan keajaiban Asmaul Husna melemah. Statemennya perlu diralat. Statemen yang tepat, “Asmaul Husna yang hanya diucapkan tetap dahsyat karena kedahsyatannya Allah. Tapi kelakuan kita yang jauh dari nilai-nilai Asmaul Husna akan menjadi block [penghalang] terhadap kedahsyatan Asmaul Husna yang semestinya kita terima. Bukan berarti Asmaul Husna kalah dengan block tapi block tersebut ditaqdirkan Allah menjadi penghalang. Sama halnya doa yang dipanjatkan di tempat mustajab, pada waktu mustajabah, dengan Asma`ul Husna, tapi kalau makanan kita haram dan pakaian kita haram maka kata Rasulullah, “Bagaimana bisa mustajab doanya.”. Jadi bukan Allah kalah dengan perilaku kita, tapi Allah sengaja menjadikan perilaku bejat kita sebagai block terhadap ‘turunnya’ energi Asmaul Husna.
Asmaul Husna walaupun tidak diketahui oleh seluruh manusia tetaplah ajaib luar biasa. Asmaul Husna yang diabaikan, tidak diwujudkan dalam perilaku, atau sekadar jadi ‘mantra’, tetaplah istimewa. Asmaul Husna dalam Al-Qur`an: Allah 2.699 kali, Ar-Rahman 150 kali, Al-Haqq 187 kali tapi kalau sebagai Asmaul Husna hanya 10 kali, Al-Muqtadir 4 kali, Al-Lathiif 7 kali, At-Tawwaab 11 kali, Al-Qawiyy 11 kali, Al-Hayy 3 kali, Al-Qayyuum 11 kali, Al-Hamiid 17 kali. Ada banyak hikmah rahasia dari pengulangan masing-masing Asmaul Husna tersebut.
Keteraturan dalam membaca, merenungi, mengamalkan, dan menghafal Asmaul Husna saling melengkapi: bacaan membangun pengenalan, renungan menguatkan makna, pengamalan menjadikan iman nyata, dan hafalan memastikan kontinuitas. Hasilnya bukan hanya ketenangan batin, tetapi juga motivasi yang meningkat untuk mencari ridha Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, serta takut dan waspada terhadap akibat kemaksiatan—semua manfaat yang diuraikan pada sumber. Mulai saat ini amalkan langkah kecil yang konsisten: pilih beberapa nama setiap hari untuk dibaca, direnungi artinya, dijadikan pedoman dalam tindakan, dan dihafalkan sedikit demi sedikit. Dengan cara ini, manfaat spiritual dan praktis Asmaul Husna yang disebutkan pada pranala tadi dapat menjadi bagian nyata dalam kehidupan sehari-hari — menjadikan batin lebih dekat kepada Allah dan hidup lebih terarah.
Metode Cepat Hafal Asmaul Husna dengan Flash Card Lipat Harmonika 4 Bahasa
ALT
Di Indonesia, metode cepat menghafal Asmaul Husna sering dilakukan melalui lagu atau nasyid yang memiliki irama sederhana dan pengulangan. Lagu membuat hafalan lebih mudah melekat karena otak manusia cenderung mengingat pola ritme dan melodi. Oleh sebab itu, banyak sekolah Islam, TPA, dan PAUD menggunakan lagu Asmaul Husna yang dinyanyikan bersama setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Metode ini juga sering dipadukan dengan tayangan video animasi atau musik religi anak sehingga anak dapat menghafal secara alami tanpa merasa sedang belajar secara formal.
Metode lain yang cukup populer di Indonesia adalah gerakan tubuh atau metode kinestetik. Dalam metode ini setiap nama Allah diucapkan sambil melakukan gerakan tangan atau tubuh yang melambangkan makna nama tersebut, misalnya gerakan menunjuk ke atas untuk menunjukkan keagungan Allah atau membuka tangan untuk melambangkan kasih sayang. Cara ini banyak dipakai di RA, TK Islam, dan TPA karena anak-anak lebih mudah mengingat sesuatu ketika mereka bergerak. Kombinasi antara suara, visual, dan gerakan membuat proses hafalan lebih kuat karena melibatkan banyak indera sekaligus.
Selain itu terdapat juga metode pengelompokan makna dan syair (nadham). Nama-nama Allah tidak dihafal satu per satu secara acak, tetapi dikelompokkan berdasarkan tema seperti sifat rahmat, kekuasaan, atau ilmu Allah. Di sebagian pesantren, Asmaul Husna bahkan disusun dalam bentuk syair atau nadham sehingga dibaca dengan irama seperti membaca qasidah atau bait-bait pelajaran. Metode ini membantu santri bukan hanya menghafal urutan nama, tetapi juga memahami hubungan makna antara satu nama dengan nama lainnya.
Metode yang lebih kreatif lagi adalah hafalan berbasis permainan (game). Guru atau orang tua menggunakan media seperti kartu permainan (flashcard), kuis tebak nama dan arti, puzzle, atau permainan kelompok. Misalnya anak diminta mencocokkan kartu nama Allah dengan artinya atau bermain lomba menyusun urutan Asmaul Husna. Ada juga aplikasi digital dan animasi edukasi yang mengubah hafalan menjadi permainan interaktif. Metode permainan ini efektif karena membuat suasana belajar menyenangkan, meningkatkan motivasi anak, serta membantu hafalan menjadi pengalaman yang aktif dan tidak membosankan.
Yuk bantu Asmaul Husna Universe dengan membeli produk Flash Card Asmaul Husna.
Viral Keberkahan di Balik 10 Hari Pertama Bulan Ramadhan
#Keimanan – Bulan #Suci #Ramadhan memiliki daya tarik tersendiri yang mampu menggerakkan orang-orang untuk beramal saleh. Ibarat sebuah kompetisi, semua orang sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sudah beberapa hari berlalu dan pola kebiasaan masyarakat muslim perlahan mulai berubah. Mulai dari jam makan yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, waktu beribadah yang semakin intens, dan ghairat…
Mengenal Hadits Qudsi: Pengertian, Ciri, dan Perbedaannya dengan Hadits Nabawi
SURAU.CO – Dalam khazanah keilmuan Islam, kita mengenal berbagai sumber hukum dan tuntunan hidup. Selain Al-Qur’an sebagai mukjizat utama, umat Islam juga merujuk pada hadits. Namun, taukah Anda bahwa hadits sendiri terbagi menjadi beberapa jenis? Salah satu yang paling istimewa adalah Hadits Qudsi. Banyak orang masih bingung perbedaan antara Hadits Qudsi, Hadits Nabawi, dan Al-Qur’an. Padahal,…
Rutinan malam rabu. Pembacaan maulid Burdah dan Dalail Khoirot.
Kitab Arbain Nawawi
Oleh : Ust Abdul Hakim
Suatu ketika Rasulullah SAW di datangi seorang laki-laki di tengah-tengah para sahabat. Yang kemudian laki-laki tersebut mengajukan beberapa pertanyaan kepada baginda Nabi. Menjelang akhir tanya jawab laki-laki itu bertanya “beritahu aku kapan datangnya kiamat”, lalu Rasulullah menjawab “…
Taqrīb al-Tahdhīb dan Perkembangan Ilmu Biografi dalam Islam
Surau.co. Di zaman modern ini, frasa kunci “Taqrīb al-Tahdhīb” dalam ilmu biografi Islam klasik kembali menarik perhatian para peneliti. Kitab karya Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī tersebut tidak hanya menjadi landasan studi sistematis perawi, tetapi juga menantang cara berpikir baru dalam memahami otoritas sanad. Artikel ini akan menelusuri bagaimana Taqrīb al-Tahdhīb memperkuat sekaligus memperbarui…
Keadilan dalam Islam: Menelusuri Makna Adil dan Qisth
Keadilan dalam Islam: Memahami Makna Adil dan Qisth
Keadilan adalah salah satu konsep penting dalam Islam yang mencakup dua aspek utama: hubungan antara pencipta dan makhluk serta interaksi antar makhluk. Keadilan ini tidak hanya terlihat dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dalam bagaimana manusia saling berinteraksi satu sama lain.
Keadilan Penciptaan
Allah SWT menciptakan alam semesta dengan kesempurnaan yang luar biasa. Setiap elemen di dalamnya berfungsi sesuai dengan kehendak-Nya, tanpa cacat atau kekurangan. Ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam mencakup pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana segala sesuatu diciptakan dan berfungsi dalam harmoni. Kerusakan yang terjadi di dunia ini, seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur'an (QS. al-Rum: 41), adalah akibat dari tindakan manusia, bukan dari ketidakadilan Tuhan.
Manusia, sebagai makhluk yang diberi akal, memiliki tanggung jawab untuk berlaku adil. Allah tidak pernah berbuat zalim, bahkan tidak seberat biji sawi. Sebaliknya, kezaliman yang ada di dunia ini sering kali disebabkan oleh kesombongan dan tindakan manusia itu sendiri. Dalam QS. al-Nisa’: 40, Allah menegaskan bahwa manusia lah yang sering kali berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri dan orang lain.
Keadilan antar Manusia
Dalam interaksi sosial, manusia diharapkan untuk saling memperlakukan satu sama lain dengan baik, penuh kasih sayang, dan saling menghormati. Keadilan dalam konteks ini berarti memberikan hak-hak kepada orang lain dan tidak mendiskriminasi berdasarkan status sosial, kekayaan, atau latar belakang.
Pengertian Adil dalam Al-Qur'an
Untuk memahami makna kata “adil” dalam Islam, penting untuk merujuk pada Al-Qur'an, Hadis, dan kamus bahasa Arab. Dalam Al-Qur'an, kata “adil” muncul sebanyak 28 kali dalam berbagai bentuk. Beberapa contohnya terdapat dalam surat an-Nisa, seperti ayat 3, 58, dan 135, serta dalam surat al-Baqarah dan al-An’âm.
Salah satu ayat yang menyoroti pentingnya keadilan adalah QS. an-Nisa: 58, yang menyatakan bahwa Allah memerintahkan umat-Nya untuk menyampaikan amanah dan menetapkan hukum dengan adil. Ayat ini menekankan bahwa keadilan adalah bagian integral dari ajaran Islam.
Perbedaan antara Adil dan Qisth
Dalam bahasa Arab, “adil” (الْعَدْلُ) dan “qisth” (القِسْطُ) memiliki makna yang berbeda meskipun sering dianggap serupa. Kata “adil” lebih berfokus pada konsep moral dan spiritual, sedangkan “qisth” lebih berkaitan dengan ukuran, proporsi, dan hal-hal yang dapat diukur secara fisik. Dengan kata lain, adil mencakup aspek yang lebih luas, termasuk keadilan emosional dan spiritual, sementara qisth lebih terfokus pada aspek yang tampak dan dapat dihitung.
Kedua kata ini menunjukkan bahwa keadilan dalam Islam tidak hanya tentang kesetaraan dalam hal materi, tetapi juga mencakup keadilan dalam hal kasih sayang, perhatian, dan pengertian antar sesama. Dalam konteks ini, adil berarti memberikan hak-hak yang sepatutnya kepada setiap individu, sedangkan qisth lebih kepada pembagian yang adil dalam hal fisik.
Keadilan yang Seimbang
Dalam Islam, keadilan bukan hanya tentang memberikan hak secara merata, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap tindakan didasarkan pada prinsip kebenaran dan keadilan. Ini berarti bahwa keadilan harus dipahami dalam konteks yang lebih luas, yang mencakup baik aspek fisik maupun spiritual.
Sebagai contoh, dalam hal pembagian warisan, keadilan tidak hanya dilihat dari segi jumlah harta yang dibagikan, tetapi juga dari segi kasih sayang dan perhatian yang diberikan kepada anggota keluarga. Keadilan dalam Islam mengajak kita untuk melihat lebih dalam dari sekadar angka dan proporsi, tetapi juga mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan emosional orang lain.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, keadilan dalam Islam adalah konsep yang kompleks dan mendalam. Ini mencakup tidak hanya tindakan fisik, tetapi juga aspek moral dan spiritual dari kehidupan. Memahami makna kata “adil” dan “qisth” membantu kita untuk lebih menghargai prinsip-prinsip keadilan yang diajarkan dalam agama ini.
Dengan demikian, kita diharapkan dapat menerapkan keadilan dalam setiap aspek kehidupan kita, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia.
Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom
SURAU.CO – Guru-guru, apalagi guru pesantren yang biasa dipanggil ustadz dan ustadzah kok nonton bareng (nobar) film di bioskop ? eits. sabar dulu, ini nobar bukan sembarang nobar lho ya. Betul adanya bahwa pada Jum’at, 10 Oktober 2025 sekira 200 orang yang terdiri dari para guru berkeluarga beserta anak-anak dan istri/suami, juga guru lajang, kembali mendapat kesempatan nobar di XXI IMAX…
Menggali Makna Harta dalam Perspektif Islam yang Sejati
Penggunaan Harta dalam Perspektif Islam
Pola hidup yang materialistik, hedonistik, dan sekularistik semakin merajalela di kalangan umat Muslim, termasuk di Indonesia. Fenomena ini sering kali terlihat melalui tren “flexing” di media sosial, di mana orang-orang menunjukkan kekayaan mereka bukan hanya untuk pamer, tetapi juga untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain. Hal ini menunjukkan betapa banyak orang terjebak dalam gaya hidup hedonis yang sebenarnya tidak mereka sadari asal-usulnya.
Pentingnya Memahami Nilai Harta
Salah satu masalah utama adalah pandangan yang menganggap harta sebagai sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai yang seharusnya menyertainya. Ideologi materialisme telah mengakar dalam masyarakat Muslim, merusak tatanan ekonomi dan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Dalam konteks ini, kita perlu melihat harta dari sudut pandang Islam, yang memandangnya sebagai sesuatu yang memiliki tujuan dan nilai.
Harta dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat penting. Dalam ajaran Islam, harta (al-mâl) bukan hanya sekadar barang yang dimiliki, tetapi juga merupakan amanah yang harus dikelola dengan baik. Islam datang dengan misi untuk menyebarkan kesejahteraan (maslahah) bagi umat manusia, dan harta merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan tersebut.
Maqâshid Syari'ah dan Kesejahteraan
Dalam Islam, konsep maslahah berhubungan erat dengan maqâshid syari'ah, yang berarti tujuan hukum Islam. Tujuan ini meliputi perlindungan terhadap lima aspek penting dalam kehidupan: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Semua ini saling terkait dan bertujuan untuk menjaga kesejahteraan umat manusia.
Maqâshid syari'ah dibagi menjadi tiga tingkatan maslahah: maslahah dharûriyah (primer), maslahah hâjiyah (sekunder), dan maslahah tahsiniyah (tersier). Ketiga tingkatan ini berfokus pada perlindungan dan pengelolaan harta yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan memahami maqâshid syari'ah, kita dapat lebih baik dalam mengelola harta yang kita miliki.
Pentingnya Sumber Harta dalam Islam
Sebagai seorang Muslim, penting untuk memahami bahwa sumber harta berasal dari al-Qur'an dan hadist yang menjadi dasar syariah. Dalam al-Qur'an, kata “harta” muncul sebanyak 87 kali, menunjukkan betapa pentingnya konsep ini dalam ajaran Islam. Pengulangan ini memberi pesan kepada umat Islam tentang tanggung jawab besar yang diemban terkait dengan harta.
Misalnya, dalam beberapa ayat, Allah mengingatkan bahwa harta dan anak-anak adalah ujian. Harta yang kita miliki bukanlah milik kita sepenuhnya, melainkan amanah dari Allah yang harus dikelola dengan bijak. Kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana kita memperoleh dan menggunakan harta tersebut.
Mengelola Harta dengan Bijak
Dalam mengelola harta, kita harus mengikuti hukum-hukum syariah yang telah ditetapkan. Penggunaan harta yang tidak sesuai dengan syariah akan berakibat negatif, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika kita menggunakan harta dengan cara yang baik, kita akan mendapatkan pahala dan keberkahan dari Allah.
Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk tidak memandang remeh masalah harta. Pada hari kiamat, setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka miliki. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan harta dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam dan untuk hal-hal yang bermanfaat.
Kesimpulan
Harta dalam Islam bukan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga amanah yang harus dikelola dengan baik. Dengan memahami nilai dan tujuan harta dalam perspektif Islam, kita dapat menggunakan harta untuk mencapai kesejahteraan yang sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Semoga harta yang kita miliki membawa keberkahan dan mendekatkan kita kepada Allah Swt.
Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom
Keajaiban dan Keistimewaan Surah Al-Fatihah dalam Al-Qur'an
Surah Al-Fatihah adalah salah satu surah yang sangat istimewa dalam Al-Qur'an. Dalam sebuah perjalanan ke perpustakaan yayasan tempat saya mengajar pada tahun 2009, saya menemukan sebuah buku berjudul “Samudera Al-Fatihah” karya H. Bey Arifin. Meskipun cover buku tersebut sudah terlihat usang, isi dan penjelasan di dalamnya sangat memukau. H. Bey Arifin, yang lahir di Parak Laweh, Sumatera Barat pada 29 September 1917 dan meninggal pada 30 April 1995, menyajikan pengetahuan yang mendalam tentang Surah Al-Fatihah.
Setelah membaca beberapa halaman, saya mencatat beberapa poin penting yang memperkaya pemahaman saya tentang keistimewaan Surah Al-Fatihah. Berikut adalah ringkasan dari poin-poin tersebut.
Keistimewaan Pertama: Surah Terbesar (A’zam)
Dalam buku tersebut, penulis mengutip sebuah hadits dari Imam Ahmad Muhammad bin Hambal. Dalam hadits itu, Rasulullah SAW menyatakan bahwa Surah Al-Fatihah adalah surah yang paling besar dalam Al-Qur'an. Ketika seorang sahabat tidak segera mendatangi Rasulullah karena sedang salat, Rasulullah pun berjanji untuk mengajarkan surah terbesar sebelum sahabat itu keluar dari masjid. Surah ini terdiri dari tujuh ayat yang berulang-ulang dan merupakan bagian penting dari Al-Qur'an.
Keistimewaan Kedua: Unik dan Tak Tertandingi
Keistimewaan lain dari Surah Al-Fatihah adalah bahwa tidak ada surah lain dalam kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Injil, atau Zabur, yang dapat menandinginya. Ali bin Abi Thalib r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa membaca Al-Fatihah seolah-olah kita telah membaca semua kitab suci tersebut. Ini menunjukkan betapa pentingnya Surah Al-Fatihah dalam konteks ajaran Islam.
Keistimewaan Ketiga: Khusus untuk Nabi Muhammad SAW
Surah Al-Fatihah juga memiliki keistimewaan karena diturunkan khusus untuk Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i, Jibril memberitahukan kepada Nabi Muhammad bahwa ia menerima dua cahaya yang tidak pernah diberikan kepada nabi manapun sebelumnya, yaitu Al-Fatihah dan beberapa ayat akhir dari Surah Al-Baqarah. Ini menunjukkan betapa istimewanya Surah Al-Fatihah dalam wahyu Allah.
Keistimewaan Keempat: Jawaban Langsung dari Allah
Setiap kali seseorang membaca Surah Al-Fatihah, Allah langsung memberikan jawaban. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Allah membagi salat antara-Nya dan hamba-Nya menjadi dua bagian. Ini menunjukkan kedekatan antara hamba dan Allah saat membaca Surah Al-Fatihah.
Keistimewaan Kelima: Perlindungan dari Bahaya
Surah Al-Fatihah juga memberikan perlindungan dari berbagai bahaya. Dalam riwayat al-Buzar dari Anas r.a., Rasulullah SAW menyatakan bahwa siapa pun yang membaca Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad akan aman dari segala bahaya, kecuali maut. Ini menunjukkan bahwa Surah Al-Fatihah memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa.
Keistimewaan Keenam: Turun dari Arasy
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Rasulullah SAW menyatakan bahwa Al-Qur'an, termasuk Surah Al-Fatihah, adalah wahyu yang langsung berasal dari Arasy. Rasulullah mengingatkan umatnya untuk mematuhi segala yang terdapat dalam Al-Qur'an dan tidak ragu untuk merujuk kepada Allah dan para ulama jika ada keraguan. Ini menegaskan bahwa Surah Al-Fatihah adalah bagian dari wahyu yang sangat penting.
Keistimewaan Ketujuh: Sebagai Obat
Surah Al-Fatihah juga dikenal sebagai obat atau mentera. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, seorang sahabat Rasulullah menyembuhkan orang sakit dengan membacakan Surah Al-Fatihah. Rasulullah bahkan menyarankan agar siapa pun yang mengetahui kekuatan surah ini untuk membagikannya sebagai hadiah. Ini menunjukkan bahwa Surah Al-Fatihah tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga dapat digunakan untuk penyembuhan fisik.
Buku “Samudera Al-Fatihah” karya H. Bey Arifin mengandung banyak informasi penting lainnya, termasuk tafsir dari setiap ayat dan pembahasan mengenai tata cara membaca Al-Fatihah.
Buku ini mengajak pembaca untuk lebih memahami kedalaman makna dan keistimewaan Surah Al-Fatihah dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan kita tentang Surah Al-Fatihah dan menginspirasi kita untuk lebih mendalami ajaran Islam.
Kolaka Raih Juara Umum STQH XXVIII Sultra 2025, Wakil Gubernur Beri Apresiasi
Kendari, BuletinNews.com – Kabupaten Kolaka sukses mengukuhkan diri sebagai juara umum dalam ajang Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) ke-28 Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2025. Acara penutupan digelar secara resmi pada Kamis malam (27/06/2025) di Ballroom Hotel Sahid Aziza Syahriah, Kota Kendari, dan dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, M.Ling.
Mengapa larangan berzina dalam Al-Qur'an (QS.17:32) itu perintahnya tidak langsung to the point; “Jangan berzina!”, tapi justru dimulai dengan kalimat, “Jangan dekati zina”?.
Sebab terjerumusnya laki-laki dan perempuan ke dalam zina hakiki (zina kemaluan) selalu diawali dengan zina-zina majazi (seperti zina mata, zina telinga, zina mulut/lisan, zina tangan, zina kaki dan zina hati).
Zina mata tersebab memandang (yang diharamkan), zina telinga tersebab mendengarkan (hal-hal yang berpotensi membangkitkan hasrat/keinginan pada yang diharamkan), zina mulut/lisan tersebab ucapan/rayuan/ciuman (yang diharamkan), zina tangan tersebab sentuhan (yang diharamkan), zina kaki tersebab ayunan langkah menuju kemaksiatan, zina hati tersebab mengangan-angankan sesuatu (yang diharamkan). Sementara kemaluan (tempat keluarnya madzi ataupun mani) akan jadi saksi (yang membenarkan atau mendustakan) terjadi atau tidaknya perbuatan (zina) itu. (Rujukan: HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)
Maka sungguh, indah sekali ajaran Islam itu. Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menjaga pandangannya agar terjaga dari zina mata. Untuk tidak sembarang curhat ke lawan jenisnya agar tidak terjerumus pada zina telinga. Untuk tidak bermudah-mudahan dalam berinteraksi, agar terpelihara dari zina tangan dan kaki. Untuk tidak berbicara dengan suara yang mendayu-dayu atau dengan kalimat ambigu yang bertujuan merayu atau dengan bahasa kode-kodean yang dibungkus dalam candaan agar terjaga dari zina lisan. Untuk tidak mudah mengumbar perasaan atau memberi kode-kodean hingga muncul angan-angan atau bahkan berhalusinasi agar terjaga dari zina hati.
Jangan pernah mendekati zina (majazi) jika tidak ingin terjerumus dalam zina (hakiki).
Ya Allah, kami meminta perlindungan-Mu dari keburukan pendengaran kami, dari keburukan penglihatan kami, dari keburukan lisan kami, dari keburukan hati kami, dan dari keburukan kemaluan kami. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (HR.Abu Daud no. 1551).
Berhati-hatilah dengan maksiat, karena dampak dari maksiat bisa menjadi sebab perpisahan.
Allah pisahkan Nabi Adam & Siti Hawa saat diturunkan ke bumi, karena keduanya terhasut bujukan setan untuk melanggar larangan Allah memakan buah Khuldi.
Allah pisahkan Nabi Nuh dari sang istri, karena sang istri memfitnah Nabi Nuh gila dan mendustakan dakwah suaminya.
Allah pisahkan Nabi Luth dari istrinya, karena istrinya membocorkan rahasia dan berpihak pada kaum Sodom.
Allah pisahkan Asiyah dari suaminya, Fir'aun, karena kedurhakaan Fir'aun yang mengaku-ngaku sebagai Tuhan.
“Tidaklah ada dua orang yang saling mengasihi karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam lalu keduanya berpisah, melainkan disebabkan dosa (maksiat) yang dikerjakan salah seorang dari keduanya”. (HR. Ahmad no. 5357)
Maka, janganlah bermudah-mudah dalam kemaksiatan.
Apa yang dimaksud dengan kemaksiatan?.
Sesuatu yang menggelisahkan hatimu ketika orang lain mengetahuinya.
Dari Abu Bakrah Nufai’ bin al-Hârits Radhiyallahu anhu , ia berkata : Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu dosa besar yang paling besar?” –Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya tiga kali–. Kami (para Shahabat) menjawab, “Tentu, wahai Rasûlullâh.” Nabi hallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menyekutukan Allâh dan durhaka kepada kedua orang tua.”Awalnya Beliau bersandar kemudian duduk dan bersabda, “Serta camkanlah, juga perkataan bohong dan saksi palsu.” Nabi selalu mengulanginya sehingga kami berkata (dalam hati kami), “Semoga Beliau diam.”
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri (no. 2654, 5976, 6273, 6274, 6919) dan dalam al-Adabul Mufrad (no. 15); Muslim (no. 87); Ahmad (V/36, 37, 38); At-Tirmidzi (no. 1901, 2301, 3019) dan dalam asy-Syamâ`il Muhammadiyyah (no. 131); Al-Bazzar (no. 3630); dan al-Baihaqi dalam Sunan-nya (X/121).
Maktabah Syamilah: Pengenalan, Tujuan dan Kelebihan
Sebuah software kitab yang tidak asing lagi bagi para pecinta ilmu, terutama kitab-kitab turats. Namun demikian ternyata tidak sedikit di antara kita yang belum mengenal Maktabah Syamilah dengan baik. Padahal manfaatnya sungguh luar biasa. Mudah, murah, fleksibel, hemat tempat, serta seabrek kelebihan lain yang dimiliki oleh perangkat lunak yang penuh barakah ini. Oleh karena itulah, pada…