Aku dan Dua Jam Perjalanan Pulang
Bagi sebagian besar masyarakat Jabodetabek, makan waktu berjam-jam untuk mencapai rumah adalah hal yang ‘hampir’ terasa biasa. Begitu pun aku. Posisi rumah di mana, dan posisi tempat bekerja di mana.
Terkadang, ada saja komentar sekelibat lewat dalam obrolan dengan supir ojol atau orang-orang yang bercakap di jalan.
“Kenapa cari tempat kerjanya jauh-jauh banget sih? Kenapa ga cari yang dekat rumah aja?”
Aku yang pernah merasakan keduanya, hanya bisa menjawab.. “Bagaimana ya Pak/Bu.. wallahu'allam kita ga pernah tau rezeki datengnya dari mana. Alhamdulillah rezekinya di sini, yaa kita jemput walau jaraknya cukup lumayan.”
Jujur, bisa mengucap jawaban tersebut butuh proses yang panjang. Ada kalanya, ketika lelah ya mengeluh. Namanya juga manusia. Namun, setelah merefleksikan berbagai hal baik yang sudah Allah limpahkan melalui pekerjaan sekarang. Aku sangat menyukuri semuanya.
Ada masanya aku mengejar waktu untuk bisa pulang tenggo, dan sampai di rumah lebih awal. Mengejar jam-jam terawal untuk sampai di halte tempat angkutan umum yang kutumpangi tiba. Tapi setelah beberapa saat melakukannya, lelah juga. Dalam hati tuh tiba-tiba tertohok, “Ngejar apa sih?”
Aku mulai berdamai dengan rasa berpacu dengan waktu untuk cepat-cepat sampai ke rumah itu. Dengan mempertimbangkan alasan rasional dan juga situasional.
Alasan pertama : Bukan cuma aku yang mau buru-buru sampai di rumah. HAMPIR SEMUA orang juga begitu.
Jadi sudah terbayang, jam-jam rush hour seperti pukul 16.00 - 18.00 itu lagi padat-padatnya.
Alasan kedua : Aku butuh jeda untuk menetralkan suasana hati/pikiran yang terbawa dari pekerjaan, sebelum bertemu dengan orang rumah.
Jadi aku menikmati jeda dalam waktu perjalanan itu. Sholat Maghrib dan Isya dalam perjalanan. Berdialog dengan diri dalam waktu sekejap saat naik eskalator atau tangga. Percakapan-percakapan yang jarang terjadi jika diniatkan, entah kenapa suka tiba-tiba keluar dalam jeda kesendirian itu.
Semoga rasa nyaman dalam fase slow down ini terus bertahan. Ketika sekitar berpacu dengan waktu dan kecepatan, mengambil jeda dengan berjalan perlahan terasa begitu menenangkan.
Semangatt para pencari nafkah dan khususnya commuters Jabodetabek! Insya Allah berdesak-desakanmu di KRL atau TJ, membawa berkah pada setiap rezeki yang kau usahakan di tiap harinya.
Kebayoran, 11 Desember 2025